Setetes madu terjatuh di lantai,
itu membuat seekor semut ingin sekali mencicipinya. Dicicipilah madu tersebut
sedikit, dan rasanya maniiss sekali. Semut pun mau mengajak teman-teman nya
mencicipi tapi rasa penasaran akan rasa manis madu membuat semut itu kembali
pada tetesan madu itu...dicicipi kembali madu tersebut...emm rasanya semakin
manis. Dan membuat semut itu ketagihan dengan manisnya madu itu. Saking ketagihannya
semut itu terus dan terus menyicipi dan akhirnya dia tenggelam ke dalam tetesan
madu itu.
Pelajaran semut ini sangat
berharga.
Madu diibaratkan sebagai Dunia,
dan kita adalah semut. Kita selalu ingin menikmati dunia, bekerja tiada henti, mencari
uang tiada henti, demi kebahagiaan di dunia dan manisnya nikmat dunia. Jika kita
terus memikirkan dunia dan mencari manisnya dunia....kita akan terlena dengan
dunia itu sendiri dan bisa-bisa kita tenggelam di dalamnya seperti semut yang tenggelam dalam manisnya madu. Padahal kita tahu bahwa dibalik kesuksesan
kita Allah lah yang mengatur, dan kita lupa tujuan kita berada di dunia adalah
untuk mengabdi kepada Allah dengan beribadah kepada Allah, dan kita lupa juga
kita akan meninggalkan Dunia ini.
Bekerjakeraslah tapi ingat dengan
ibadah, belajarlah tapi ingat dengan ibadah dan jadikan kerja keras kita
sebagai ibadah, agar kita suatu saat tidak terlena dengan manisnya kebahagiaan
di dunia. mungkin itu pelajaran berharga dari seekor semut dan setetes madu
tersebut.
Kejarlah akhirat maka dunia akan mengikuti.
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagia pun di dunia.” (QS. Asy-Syura: 20)
Hal itu menjadi pelajaran buat
kita semua, terutama saya dan keluarga, bahwa segala sesuatu itu haruslah
seimbang #duniakhirat, semoga kita semua menjadi orang yang selalu terjaga keimanannya,
dan bahagia dunia akhirat. Amiinnn
#samasamabelajarlebihbaikyu..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar